Welcome

Enjoy your life

Saturday, November 12, 2016

cerpen untuk orang-orang seperti kami

Hari yang Tak Pernah Kembali
            Pagi itu terasa lembab karena hujan semalam namun anak-anak lain sibuk berlarian kesana-kemari ditemani orang tuanya. Hari itu adalah waktu yang aku tunggu-tunggu setelah seminggu lamanya membujuk mama untuk mengizinkan ku masuk taman kanak-kanak di dekat rumah. Ya, saat itu aku masih berumur 4 tahun dan kedua kakak ku sudah sekolah jadi tidak ada teman bermain di rumah. Akhirnya kakek yang mengantarku karena mama sibuk dengan pekerjaannya dan harus berangkat pagi-pagi. Saat itu yang ada dipikiranku sekolah adalah tempat bermain karena setiap anak-anak yang kulihat lewat di rumahku sangat senang setelah pulang dari taman kanak-kanak.
            Hari pertama tidak banyak anak-anak lain yang aku kenal jadi aku hanya diam dan senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan guru. Kulihat orang tua lain menemani anak-anaknya sedangkan kakek sudah pulang setelah mengantarkan aku sampai ke kelas. Anes seorang anak yang tinggal tidak jauh dari rumahku mulai berbicara padaku dan aku baru tau kami tinggal lumayan dekat dan sejak saat itu ia sering bermain kerumahku hanya untuk melihatkan mainan barunya.
            Hari-hari berlalu semakin cepat dan kami mendapat teman baru dari luar kota. Ia bilang ayahnya baru pindah dan bersikeras mengajak aku dan anes kerumahnya karena ia belum kenal dengan anak-anak lain. Siang itu aku dan anes berkumpul dirumahnya yang bisa kubilang agak antik dan usang. Anak umur 4 tahun memasuki rumah yang dihiasi benda-benda astral dan unik menurutku agak menyeramkan dan ia bilang itu semua koleksi ayahnya. Walaupun rumahnya terlihat sederhana dan penuh dengan barang-barang aneh namun ia memiliki mainan terbaru dan canggih yang belum pernah aku mainkan. Robot-robot dan kereta api serta jalurnya membuatku takjub dan itu bukan mainan murah yang setiap anak bisa minta pada orang tuanya.
            Aku bebas bermain dan berkhayal serta akrab dengan orang-orang disekitarku. Doktrin-doktrin dari kakak ku benar-benar melekat bahkan menjadi impian saat aku masih kecil. Tentang sebuah taman bermain di atap rumah kami dan harus melalui sebuah pohon yang tinggi dekat rumah baru bisa melihat taman impian itu. Itulah mimpiku dari umur 3 tahun yang akhirnya bisa aku buktikan saat menginjak bangku SMP saat akhirnya aku boleh menaiki tangga dan langsung menuju atap rumah. Kebohongan yang indah selama bertahun-tahun dan semua impianku untuk masuk dunia impian itu langsung sirna seketika.
            Setiap anak memang hidup dengan dunianya masing-masing. Aku merasa saat kecil begitu banyak kebahagiaan dalam pikiranku. Ayah tidak terlalu suka aku punya banyak mainan tapi itu tidak membuat ku sedih. Aku bisa berkhayal dengan imajinasi ku memiliki banyak mainan mulai dari pesawat-pesawatan, mobil-mobilan serta kapal-kapalan. Ya, semua itu hanya butuh imajinasi untuk bisa bahagia di duniaku. Mungkin sekarang tidak begitu banyak anak yang tau begitu nikmatnya berlarian bersama teman-teman saat hujan turun. Hujan merupakan arena bermain yang diciptakan Tuhan untuk anak-anak yang tidak dimengerti orang tua.
            Bahagia hanya ada dalam pikiran dan tidak butuh uang banyak untuk menciptakannya. Cukup dengan mencari teman yang bersembunyi atau mengejar teman yang berlarian agar dia yang selanjutnya giliran jaga sudah lebih dari cukup. Tidak perlu smartphone untuk bisa menghubungi teman cukup dengan berlarian kerumahnya dan bersorak-sorak didepan pintu pagarnya. Tidak perlu sepatu bola dan bola mahal cukup bola plastik yang dibeli patungan dan akhirnya rusak menandakan permainan berakhir.
            Masa – masa dimana semuanya hanya bermain, bermain dan bermain. Saat itu kupikir hidupku akan sangat sempurna tanpa aku tau tuntutan dan tanggung jawab akan datang seiring bertambahnya usia. Saat lulus dari taman kanak-kanak aku berpikir sekolah selanjutnya akan dua kali lebih menyenangkan daripada taman kanak-kanak namun aku salah. Sekolah dasar tidak memiliki perosotan dan jungkat-jungkit, ataupun mainan untuk dimainkan, hanya ada buku, meja dan papan tulis.
            Sekolah dasar menjadi titik balik saat aku tau semua dihargai berdasarkan nilai yang kita dapat.  Semua orang akan berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan disinilah aku merasa tidak dapat bersaing dan mulai hari-hari yang lebih berat. Tugas atau pekerjaan rumah mulai berdatangan, nilai-nilai ulangan mulai mengganggu keharmonisan keluarga dan masih banyak lagi. Aku hanya melakukan yang aku bisa untuk bisa melalui semua cobaan ini namun matematika berkata lain dan membuat ayah lebih sering marah kepadaku gara-gara mata pelajaran yang satu ini.
            Aku bahkan diberi les tambahan satu jam bersama beliau hanya untuk menyelesaikan tugas matematika. Seandainya ia tau kalau anaknya punya skill lain dan tidak setiap anak bisa matematika mungkin sekarang aku tidak separanoid ini pada matematika. Tapi zaman sekolah dasar tidak selamanya membosankan setidaknya aku punya lebih banyak teman dan pengalaman berpetualang lebih luas. Saat dapat sepeda dari orang tuaku tidak sehari pun hari ku lalui tanpa bersepeda dengan teman – teman dekat rumah. Saat itu mungkin kami seperti penguasa jalanan tapi bukan anak jalanan, bermodalkan sepeda dan aqua gelas plastik di sela-sela roda sepeda kami memutari komplek seperti membawa harley davidson. Dengan gaya geng sepeda motor kami mulai berkeliling mencari keasyikan sampai suatu waktu kami menemukan harta karun.
            Selembar uang Rp.5000 menjadi harta jarahan pertama kami. Harta yang turun dari langit atau sekarang aku tau dari kantong celana seseorang yang mungkin tidak sadar kehilangan uang tersebut. Sekarang mungkin uang segitu tidak terlalu diabaikan namun saat itu kami berdiskusi alot akan diapakan uang tersebut apakah kami simpan atau kami belanjakan. Guru ngaji ku pernah berpesan jangan mengambil hak orang lain namun aku juga berpikir dikembalikan pun kita tidak tau siapa pemiliknya. Akhirnya kami putuskan untuk mengubur uang tersebut dan memutuskan besok akan diapakan. Namun sampai sekarang uang itu menjadi misteri karena keesokan harinya kami tidak menemukan uang tersebut. Apakah mengubur uang bisa membuat hilang uang tersebut atau salah seorang diantara kami kembali dan mengambilnya? Entahlah, sampai sekarang misteri itu belum terpecahkan.

            Teman – teman di sekolah dasar memang menyenangkan karena kami tumbuh dan belajar bersama selama enam tahun. Bahkan di kelas empat kami menghadapi kasus pencurian, saat itu jam pelajaran olahraga dan salah seorang teman ku kehilangan uang nya yang tidak bisa di anggap kecil sebesar Rp.500.000. Uang yang memang tidak sedikit untuk anak kelas empat sekolah dasar. Orang tua dari teman ku ini sampai datang kesekolah dengan baju rapi dan dibalut jas serta dasi memarahi kami semua dan menuduh kami mengambil nya. Dan ini misteri kedua yang belum terpecahkan sampai saat ini. Uang memang sumber dari masalah tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
            Terlepas dari masalah ekonomi dan uang yang terlalu banyak membawa masalah ada perihal lain yang lebih penting untuk dipelajari yaitu cinta. Kasih sayang dan cinta bisa kita raih dari orang-orang terdekat kita baik itu dari ayah, ibu dan saudara yang lain namun untuk teman sebaya dan berlain jenis aku rasa berbeda. Sekolah dasar lagi-lagi mengajarkan hal lain yang rumit dimengerti selain matematika yaitu cinta, dan kami menertawakan cinta sampai kami duduk di bangku kelas 6. Mengolok-olok teman dan teman lain yang kebetulan sedikit akrab menjadi bahan lelucon kami saat itu hingga mereka tidak berteman lagi hanya gara-gara takut ditertawakan.
            Aku sendiri baru sadar kalau selama enam tahun ternyata ada perempuan yang semanis dia. Entah kenapa baru setelah enam tahun bersama dan sibuk menertawakan cinta akhirnya aku terjatuh kedalam pusaran itu. Tapi tentu saja ia tidak tau dan kami masih menjadi teman sampai sekarang, mungkin itu hanya rasa kagum sesaat dan hanya karena ia baik padaku. Aku rasa sampai sekarang wanita idaman ku masih berpatokan pada teman kecilku ini, entahlah tanpa aku sadari sepertinya.
Terlepas dari masa-masa indah nilai matematika ku tetap tidak ada perubahan sampai terjadi sedikit keajaiban yang terjadi. Ini membuat guru walikelas kagum karena nila Ujian Nasional matematika ku lumayan bagus saat itu. Selama tiga bulan walikelas ku memberi tambahan pelajaran padaku dan beberapa anak yang kurang pandai matematika. Sekali lagi matematika patokan segalanya namun tetap saja saat itu aku senang bukan kepalang karena nilai UN ku lumayan bagus.
Semuanya terjadi dibawah kehendak ayah ku, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas beliau yang tentukan. Jurusan yang akan aku ambil di SMA pun beliau yang sarankan, entah dimana keinginan ku saat beliau memutuskan sesuatu dan aku hanya bisa menurut dan patuh. Bagiku apa yang beliau suruh hanya kewajiban yang harus dipenuhi sedangkan masa-masa yang aku ingat hanya bagian bermain dan bergaul bersama teman. Belajar benar-benar hanya keharusan dan aktivitas yang harus terjadi bagaimanapun bentuknya, setidaknya itu pemahaman ku sebelumnya.
Semua punya cerita dan kenangan baik di tingkat SMP ataupun SMA. Namun hati dan fikiran ku berubah setelah duduk dibangku kuliah. Setelah melalui semuanya sesuai keinginan orang tua sekarang akhirnya aku punya keinginan dan visi kedepan walaupun sudah terlambat. Setidaknya aku berani mengungkapkan nya dan membuat mereka mengerti apa yang aku inginkan. Walaupun belum terlalu mahir namun aku jatuh cinta dan berharap suatu saat bisa menjadi seorang sutradara film.

tamat

No comments:

Post a Comment