Hari
yang Tak Pernah Kembali
Pagi itu terasa lembab karena hujan semalam namun
anak-anak lain sibuk berlarian kesana-kemari ditemani orang tuanya. Hari itu
adalah waktu yang aku tunggu-tunggu setelah seminggu lamanya membujuk mama
untuk mengizinkan ku masuk taman kanak-kanak di dekat rumah. Ya, saat itu aku
masih berumur 4 tahun dan kedua kakak ku sudah sekolah jadi tidak ada teman
bermain di rumah. Akhirnya kakek yang mengantarku karena mama sibuk dengan
pekerjaannya dan harus berangkat pagi-pagi. Saat itu yang ada dipikiranku
sekolah adalah tempat bermain karena setiap anak-anak yang kulihat lewat di
rumahku sangat senang setelah pulang dari taman kanak-kanak.
Hari pertama tidak banyak anak-anak lain yang aku kenal
jadi aku hanya diam dan senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan guru.
Kulihat orang tua lain menemani anak-anaknya sedangkan kakek sudah pulang
setelah mengantarkan aku sampai ke kelas. Anes seorang anak yang tinggal tidak
jauh dari rumahku mulai berbicara padaku dan aku baru tau kami tinggal lumayan
dekat dan sejak saat itu ia sering bermain kerumahku hanya untuk melihatkan
mainan barunya.
Hari-hari berlalu semakin cepat dan kami mendapat teman
baru dari luar kota. Ia bilang ayahnya baru pindah dan bersikeras mengajak aku
dan anes kerumahnya karena ia belum kenal dengan anak-anak lain. Siang itu aku
dan anes berkumpul dirumahnya yang bisa kubilang agak antik dan usang. Anak
umur 4 tahun memasuki rumah yang dihiasi benda-benda astral dan unik menurutku
agak menyeramkan dan ia bilang itu semua koleksi ayahnya. Walaupun rumahnya
terlihat sederhana dan penuh dengan barang-barang aneh namun ia memiliki mainan
terbaru dan canggih yang belum pernah aku mainkan. Robot-robot dan kereta api
serta jalurnya membuatku takjub dan itu bukan mainan murah yang setiap anak
bisa minta pada orang tuanya.
Aku bebas bermain dan berkhayal serta akrab dengan
orang-orang disekitarku. Doktrin-doktrin dari kakak ku benar-benar melekat
bahkan menjadi impian saat aku masih kecil. Tentang sebuah taman bermain di
atap rumah kami dan harus melalui sebuah pohon yang tinggi dekat rumah baru
bisa melihat taman impian itu. Itulah mimpiku dari umur 3 tahun yang akhirnya
bisa aku buktikan saat menginjak bangku SMP saat akhirnya aku boleh menaiki
tangga dan langsung menuju atap rumah. Kebohongan yang indah selama
bertahun-tahun dan semua impianku untuk masuk dunia impian itu langsung sirna
seketika.
Setiap anak memang hidup dengan dunianya masing-masing.
Aku merasa saat kecil begitu banyak kebahagiaan dalam pikiranku. Ayah tidak
terlalu suka aku punya banyak mainan tapi itu tidak membuat ku sedih. Aku bisa
berkhayal dengan imajinasi ku memiliki banyak mainan mulai dari
pesawat-pesawatan, mobil-mobilan serta kapal-kapalan. Ya, semua itu hanya butuh
imajinasi untuk bisa bahagia di duniaku. Mungkin sekarang tidak begitu banyak
anak yang tau begitu nikmatnya berlarian bersama teman-teman saat hujan turun.
Hujan merupakan arena bermain yang diciptakan Tuhan untuk anak-anak yang tidak
dimengerti orang tua.
Bahagia hanya ada dalam pikiran dan tidak butuh uang
banyak untuk menciptakannya. Cukup dengan mencari teman yang bersembunyi atau
mengejar teman yang berlarian agar dia yang selanjutnya giliran jaga sudah
lebih dari cukup. Tidak perlu smartphone
untuk bisa menghubungi teman cukup dengan berlarian kerumahnya dan bersorak-sorak
didepan pintu pagarnya. Tidak perlu sepatu bola dan bola mahal cukup bola
plastik yang dibeli patungan dan akhirnya rusak menandakan permainan berakhir.
Masa – masa dimana semuanya hanya bermain, bermain dan
bermain. Saat itu kupikir hidupku akan sangat sempurna tanpa aku tau tuntutan
dan tanggung jawab akan datang seiring bertambahnya usia. Saat lulus dari taman
kanak-kanak aku berpikir sekolah selanjutnya akan dua kali lebih menyenangkan
daripada taman kanak-kanak namun aku salah. Sekolah dasar tidak memiliki
perosotan dan jungkat-jungkit, ataupun mainan untuk dimainkan, hanya ada buku,
meja dan papan tulis.
Sekolah dasar menjadi titik balik saat aku tau semua
dihargai berdasarkan nilai yang kita dapat.
Semua orang akan berlomba-lomba menjadi yang terbaik dan disinilah aku
merasa tidak dapat bersaing dan mulai hari-hari yang lebih berat. Tugas atau
pekerjaan rumah mulai berdatangan, nilai-nilai ulangan mulai mengganggu
keharmonisan keluarga dan masih banyak lagi. Aku hanya melakukan yang aku bisa
untuk bisa melalui semua cobaan ini namun matematika berkata lain dan membuat
ayah lebih sering marah kepadaku gara-gara mata pelajaran yang satu ini.
Aku bahkan diberi les tambahan satu jam bersama beliau
hanya untuk menyelesaikan tugas matematika. Seandainya ia tau kalau anaknya
punya skill lain dan tidak setiap anak bisa matematika mungkin sekarang aku
tidak separanoid ini pada matematika. Tapi zaman sekolah dasar tidak selamanya
membosankan setidaknya aku punya lebih banyak teman dan pengalaman berpetualang
lebih luas. Saat dapat sepeda dari orang tuaku tidak sehari pun hari ku lalui
tanpa bersepeda dengan teman – teman dekat rumah. Saat itu mungkin kami seperti
penguasa jalanan tapi bukan anak jalanan, bermodalkan sepeda dan aqua gelas
plastik di sela-sela roda sepeda kami memutari komplek seperti membawa harley davidson. Dengan gaya geng sepeda
motor kami mulai berkeliling mencari keasyikan sampai suatu waktu kami
menemukan harta karun.
Selembar uang Rp.5000 menjadi harta jarahan pertama kami.
Harta yang turun dari langit atau sekarang aku tau dari kantong celana
seseorang yang mungkin tidak sadar kehilangan uang tersebut. Sekarang mungkin
uang segitu tidak terlalu diabaikan namun saat itu kami berdiskusi alot akan
diapakan uang tersebut apakah kami simpan atau kami belanjakan. Guru ngaji ku
pernah berpesan jangan mengambil hak orang lain namun aku juga berpikir dikembalikan
pun kita tidak tau siapa pemiliknya. Akhirnya kami putuskan untuk mengubur uang
tersebut dan memutuskan besok akan diapakan. Namun sampai sekarang uang itu
menjadi misteri karena keesokan harinya kami tidak menemukan uang tersebut.
Apakah mengubur uang bisa membuat hilang uang tersebut atau salah seorang
diantara kami kembali dan mengambilnya? Entahlah, sampai sekarang misteri itu
belum terpecahkan.
Teman – teman di sekolah dasar memang menyenangkan karena
kami tumbuh dan belajar bersama selama enam tahun. Bahkan di kelas empat kami
menghadapi kasus pencurian, saat itu jam pelajaran olahraga dan salah seorang
teman ku kehilangan uang nya yang tidak bisa di anggap kecil sebesar
Rp.500.000. Uang yang memang tidak sedikit untuk anak kelas empat sekolah
dasar. Orang tua dari teman ku ini sampai datang kesekolah dengan baju rapi dan
dibalut jas serta dasi memarahi kami semua dan menuduh kami mengambil nya. Dan
ini misteri kedua yang belum terpecahkan sampai saat ini. Uang memang sumber
dari masalah tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Terlepas dari masalah ekonomi dan uang yang terlalu
banyak membawa masalah ada perihal lain yang lebih penting untuk dipelajari
yaitu cinta. Kasih sayang dan cinta bisa kita raih dari orang-orang terdekat
kita baik itu dari ayah, ibu dan saudara yang lain namun untuk teman sebaya dan
berlain jenis aku rasa berbeda. Sekolah dasar lagi-lagi mengajarkan hal lain
yang rumit dimengerti selain matematika yaitu cinta, dan kami menertawakan
cinta sampai kami duduk di bangku kelas 6. Mengolok-olok teman dan teman lain
yang kebetulan sedikit akrab menjadi bahan lelucon kami saat itu hingga mereka
tidak berteman lagi hanya gara-gara takut ditertawakan.
Aku sendiri baru sadar kalau selama enam tahun ternyata
ada perempuan yang semanis dia. Entah kenapa baru setelah enam tahun bersama
dan sibuk menertawakan cinta akhirnya aku terjatuh kedalam pusaran itu. Tapi
tentu saja ia tidak tau dan kami masih menjadi teman sampai sekarang, mungkin
itu hanya rasa kagum sesaat dan hanya karena ia baik padaku. Aku rasa sampai
sekarang wanita idaman ku masih berpatokan pada teman kecilku ini, entahlah
tanpa aku sadari sepertinya.
Terlepas
dari masa-masa indah nilai matematika ku tetap tidak ada perubahan sampai
terjadi sedikit keajaiban yang terjadi. Ini membuat guru walikelas kagum karena
nila Ujian Nasional matematika ku lumayan bagus saat itu. Selama tiga bulan
walikelas ku memberi tambahan pelajaran padaku dan beberapa anak yang kurang
pandai matematika. Sekali lagi matematika patokan segalanya namun tetap saja
saat itu aku senang bukan kepalang karena nilai UN ku lumayan bagus.
Semuanya
terjadi dibawah kehendak ayah ku, sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan
sekolah menengah atas beliau yang tentukan. Jurusan yang akan aku ambil di SMA pun
beliau yang sarankan, entah dimana keinginan ku saat beliau memutuskan sesuatu
dan aku hanya bisa menurut dan patuh. Bagiku apa yang beliau suruh hanya
kewajiban yang harus dipenuhi sedangkan masa-masa yang aku ingat hanya bagian
bermain dan bergaul bersama teman. Belajar benar-benar hanya keharusan dan
aktivitas yang harus terjadi bagaimanapun bentuknya, setidaknya itu pemahaman
ku sebelumnya.
Semua
punya cerita dan kenangan baik di tingkat SMP ataupun SMA. Namun hati dan
fikiran ku berubah setelah duduk dibangku kuliah. Setelah melalui semuanya
sesuai keinginan orang tua sekarang akhirnya aku punya keinginan dan visi
kedepan walaupun sudah terlambat. Setidaknya aku berani mengungkapkan nya dan
membuat mereka mengerti apa yang aku inginkan. Walaupun belum terlalu mahir
namun aku jatuh cinta dan berharap suatu saat bisa menjadi seorang sutradara
film.
tamat